Baru (kurang lebih) 6 tahun King Abdul Aziz berdiri,
dan kami pun tergolong kategori pesantren yang masih berkembang. Meskipun masih
berkembang, namun teman-teman pesantren, katakan saja hmm apa ya...oh ya! Orang-orang
yang sangat baik hatinya sehingga mau berkawan dengan kami. Ada yang memang
asli keluarga pak Kyai, ada juga kenalan-kenalan pengurus yang sudah seperti
keluarga sendiri, rela dengan ikhlas memberikan bantuan demi kelancaran dakwah
agama islam yang dilakukan oleh King Abdul Aziz.
Maksudmu apa sih, Mil?
He?|Saya itu mau cerita kalau kami baru rekaman|Rekaman apa? Kamu penyanyi? Kamu... |shhh... saya mau berbagi kebahagiaan nih, jangan nanya
mulu!
Kemarin kan
ada seminar di Genteng, Banyuwangi. Seminar kesehatan, mungkin. Nah, banyak
teman yang ikut. Sehingga menyisakan saya dan beberapa teman saja. Otomatis
kami juga free dari pelajaran kan, ya? Seperti biasa, kami main ke
markas belakang :D. Kami main di perusahaan milik KAZ. Yup! King Water! Yah
bantu-bantu sedikit. Cuci galon (bukan gaGAL move ON loh ya), ngisi air,
melayani orang terapi, dan lain sebagainya termasuk foto-foto juga sih :D.
| maaf loh ya |
Nah, tiba-tiba Babah dateng tuh. Mungkin karena
melihat saya yang sudah tidak ngapa-ngapain, beliau nanya ke saya tentang tugas
terjemah saya. Memang sudah selesai, dan rencananya malam harinya mau direkam.
Tapi, berhubung saya sudah nganggur, akhirnyalah dimajukan menjadi sekitar
pukul 10.00 pagi.
Rekaman yang saya maksud bukan rekaman album atau tetek
bengek itu ya, melainkan rekaman untuk bel. Sebelumnya, kami memakai bel yang
terbuat dari pelek bekas mobil yang menggantung di pohon rambutan kecil di
samping masjid, alat pemukulnya pun juga sembarang, seringkali kami memakai
batu untuk membunyikannya. Kami biasa menyebutnya dengan sebutan “kenteng”
karena suaranya yang memang“teng..teng..” yang membuat pemukulnya sakit kuping,
hahahaha.
Memang, kami belum memiliki banyak uang. Tapi, bukan
berarti membeli bel saja kami tak mampu. Jangan menghina, ya! Kami punya bel
yang bagus itu, seperti di sekolah lain. Namun, seringkali rusak. Tidak
bunyilah, pengaturannya terbalik, dan apalah-apalah.
Karena geregetan mungkin ya, finally we record our
voice to make it as the bell!!! Yeay! Kami tidak memakai bel yang
dijual-jual itu, atau bel yang di internet lagi. Kami sekarang memiliki bel
sendiri dan semoga tidak ada yang menyamai kami. Untuk saat ini, kami masih
memakai 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, untuk ke depannya
mungkin Bahasa Arab juga. Kami membuat teks sendiri. Dan kami rekaman di studio
kerabat babah yang tidak jauh dari pesantren. Enak, kan? :D. Selain untuk bel,
kami juga rekaman untuk puisi dan nasehat. Yang melantunkan ya santri King
Abdul Aziz sendiri lah, masa orang lain?
Sengaja saya
membawa kamera saku saat rekaman, untuk bukti bahwa kami benar-benar
melakukannya. Saya hanya mengambil gambar babah dan kerabatnya, saya tidak
berani foto diri saya sendiri :D hahaha.
| Studio New Permata |
♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫ ♫
♫
Attention for all teachers, please leave the classroom
right away because your class is dismissed. And for the students, remain in the
classroom calmly, keep staying for the next lesson in by way of understanding
the utility of looking for science.
Di
atas adalah salah satu voice yang diputar saat pergantian jam. Hehehe...
Komentar
Posting Komentar