Program Pengabdian dan Kami

Di postingan awal, saya sudah pernah menyampaikan bahwasanya saya dan teman-teman adalah ANGKASA (Angkatan Satu), iya...kami baru lahir sekitar 6 tahun yang lalu. Tidak tahu itu waktu yang lama atau hanya sebentar, yang pasti kami merasa baru kemarin masuk, eh sekarang udah selesai aja, haha.
Sejak kami memiliki adik kelas, kami sudah diharuskan menjadi pemberi contoh, pemimpin, dan bahkan yang harus bertanggung jawab atas suatu event, berbeda dengan mereka yang kini berada di usia kami kala itu, mereka tak harus melakukan apa yang kami lakukan dulu. Kenapa? Karena masih ada kami. Yeah, di mana-mana (entah lingkup keluarga maupun sekolah) anak pertama alias si sulung merupakan anak yang diajak susah, yang tahu pasang-surut keadaan orang tuanya, yang menyaksikan bapak-ibunya memeras keringat siang dan malam, yang turut andil membantu pekerjaan orang tua, yang dimintai tolong untuk menjagakan adik-adiknya, yang diperdengarkan curhatan-curhatan dan juga mimpi-mimpi ortu, dan yang terakhir adalah yang paling saya suka, yaitu : YANG PALING DISAYANG. Hahaha, LOL :D.
Mengapa orang-orang membenci kami, mengapa mereka ingin menghancurkan kami, apa yang membuat mereka tak suka, apa yang membuat mereka suka pada kami, apa yang membuat mereka menolong kami, dan sebagainya. Kami merasakan semuanya, kami mendengar semuanya, kami tahu semuanya.
Dear Babah-Umi, Ibu-Bapak, Asatidz-Asatidzah...terimakasih telah memberikan semuanya kepada kami, terimakasih sudah memaksa kami, terimakasih untuk kasih sayang yang tak akan pernah berubah, terimakasih atas do’a-do’a yang dipanjatkan untuk kami, terimakasih atas perjuangannya, terimakasih untuk keilmuan, semangat, hukuman, kemarahan, nasehat, darah, keringat, air mata, terimakasih untuk segala-galanya. You all are just like our parents, even more.  

Hari itu, saat rapat wali murid kelas XII, babah meminta izin kepada orang tua biologis kami untuk ngemong (mengasuh) kami setahun lagi. Beliau bilang bahwa beliau masih belum puas dan belum rela jika harus kehilangan kami. He still wants us. Dan sepertinya, air mata juga ingin berkata-kata T_T. Orang tua kami setuju dan yeah, Program Pengabdian untuk pertama kalinya dijalankan.
Hey! Bagaimana kalian tahu apa yang terjadi saat pertemuan wali murid kala itu? - Sudah kami katakan bahwa kami mengetahui segalanya - Mencuri dengar, ya? - Tidak kok. Memang kami selalu diberitahu isi hati babah, dan kami terharu mendengarnya. - Oh... :o
Mungkin babah sudah lama merencanakan program ini, dan untuk manfaatnya pun sudah jelas. Seperti:
1.      Untuk menambah pengalaman.
Memeriksa kuku santri putri yang panjang

Jika ketemu, mari potong


Bersama mengerjakan tugas

Membantu operator menyelesaikan dapodik

Mengawal latihan gerak jalan

Suasana saat istirahat latihan berbaris

Sambil mengawal, mari mengambil foto dari balik pohon pisang

Jam bahasa setelah dhuhur A (pi)

Jam bahasa setelah dhuhur A (pa)

Jam bahasa setelah dhuhur B (pi)

Sosialisasi ke adik-adik MI daerah sekitar

Sosialisasi AKAZ di rumah warga beberapa bulan sebelum seragam ditanggalkan

Mari, Bu...ini silahkan dilanjutkan terapinya

2.      Untuk lebih mematangkan keilmuan.
Ketika dulu di kelas bisa leha-leha karena tinggal mendengarkan dan ketika ketiduran, itu merupakan dispensasi dari Allah, ketinggalan makna bisa pinjam milik teman, tidak bisa ya berarti berdiri, intinya kami masih diampuni. Nah, saat tiba giliran kami yang di depan, apakah mungkin bisa melakukan itu semuanya, lagi? Apakah mungkin ada lafadz yang tidak kami tahu arti dan maknanya? Apakah mungkin jika kami tak memahami isi yang dikandungnya? Lantas, bagaimana dengan adik-adik yang sudah siap dengan pelajaran di hadapannya? That’s why, keilmuan kami bisa lebih matang dengan hal ini.
Babah pernah berkata bahwa kami tidak boleh pilih-pilih nanti mengajar pelajaran apa, kami harus siap dan bertanggung jawab atas keilmuan apa saja yang diamanatkan kepada kami, karena semuanya sudah pernah kami pelajari. Kami dilarang mengatakan hal seperti ini : “aku tidak menguasai pelajaran ini, yang lain aja ya?”
Tidak menguasai suatu pelajaran, dikarenakan salah sendiri, iya kan? Dan untuk solusinya? Berarti harus dipecahkan sendiri. Yang pasti, hasil akhirnya haruslah sempurna.

3.      Belajar bagaimana mengatur anak orang dengan baik dan benar.
Harus ekstra peduli, tidak boleh dengan kekerasan, tidak boleh sering marah, harus dengan kasih sayang, tidak boleh semena-mena, tidak boleh berlagak bossy, intinya kami harus pakai hati.

4.      Untuk memikirkan lebih matang jurusan apa yang harus diambil dan hendak lanjut kemana.

5.      Untuk mempersiapkan diri agar kelak siap berada di mana saja dan siap menghadapi apa saja.
Di pesantren kan terdapat berbagai macam karakter yang bersemayam di dalam tubuh para santri. Kehidupan di masyarakat nanti juga tidak akan berbeda jauh. Ada yang sangat baik, baik, kurang baik, tidak baik, bahkan sangat tidak baik. Otomatis, jika berkutat dengan dunia mini itu selama kurang lebih 7 tahun, bukankah itu sudah cukup untuk menghadapi kehidupan di masa depan nanti? 
            Meskipun baru berjalan beberapa bulan, kami sudah merasakan perbedaan dalam diri kami. Kami sadar sekarang bahwa usia kami sudah semakin banyak dan sisa hidup di dunia semakin menipis. 17, 18, maupun 19 tahun bukanlah usia anak kecil lagi. Itu adalah usia yang mendekati angka 20. Ya Allah, maafkan jikalau kami masih suka bertingkah macam anak TK. Karena sebenarnya (mungkin) kami merindukan masa lalu saat memakai seragam. *Hiks....



Photo by: Kamli Photography 

*NB: Tidak ada foto yang pura-pura, semua asli. Dijamin!

Komentar