Nahdlatul Ulama dan King of Drum-band



Lagi. Untuk kesekian kali. Kain ungu muda yang sengaja bersekutu dengan ungu yang lebih tua yang kemudian dengan kombinasi benang-benang yang memasuki pori-pori lewat perantara tusukan jarum jahit sehingga menjadilah suatu bentuk pakaian dengan lengannya yang panjang, aksesoris semacam pita berwarna silver di bagian dada itu kini membalut tubuh para calon cendikiawan-cendekiawan muslim yang setiap harinya dijejali berbagai jenis macam keilmuan.


Yup! Ternyata mereka menyukai kami meskipun pasukan drum-band dengan bawahan rok ini-bagi perempuan saja pastinya-terlihat tak seperti pasukan pada umumnya. Dan aku suka menyebutnya anti mainstream! Mungkin langkah terlihat sedikit terasa sulit bagi mereka yang tak biasa melihatnya, namun hal ini menjadi hal yang sangat biasa bagi pemakainya karena setiap harinya memang bersahabat dengan nona rok-apapun aktivitasnya.



13 Desember 2016, di perempatan yang lurus dengan sebatang tugu yang dicor-entah sejak berapa tahun yang lalu itu-yang mana menjadi penanda bahwa di situlah lokasi batas antara Desa Kesilir dan Desa Siliragung, pasukan ungu terong dengan riasan normal sederhana pada paras indah yang diberi oleh Allah secara gratis, memulai syi’ar mereka.
13 Desember 2016, warga NU memercayakan pada kami untuk menjadi pembuka acara dikarenakan kami juga termasuk warganya. Yeah...dari NU, oleh NU, dan untuk NU. Demokratis! Acara peringatan maulid nabi plus pelantikan pejabat NU.

Bulu-bulu putih yang bertengger di atas kepala menari karena tiupan angin. Angin menerpa karena awan menggeliat, awan menghitam. Sobekan awan-awan putih bergradasi hitam yang nyaris seperti arumanis-bentuknya saja, bukan warna-di pasar malam mungkin sedang bahagia. Ya, bahagia hingga membuatnya terharu. Terharu dan ibarat mata, dia berkaca-kaca, hampir menangis. Langit mendung. Satu tetes hingga puluhan tetes jatuh di atas bumi, hanya sebentar kemudian berhenti. Bagaimana jika jutaan tetes lainnya juga ingin menyusul? No worries..., bermain di bawah guyuran hujan sudah pernah dialami oleh pasukan pembela Islam tanpa kuda ini. 






Benar saja. Awan-awan cantik tak kuasa lagi membendung tangis bahagianya. Setelah beberapa menit bertahan, akhirnya pertahanan itu jebol. Sebenarnya hanya satu tetes air yang turun dari langit, namun temannya miliaran, sehingga itulah yang biasa disebut dengan hujan. Hujan deras! Beruntung hujan turun saat kami sudah mencapai 100 meter terakhir. Dan di belakang kami, hey! Sudah tidak ada orang! Mereka berteduh dan meninggalkan pawai. 

 

Photo by. Kamli Photography  
Video by. Kamli Video

Komentar