Sekolah Dunia Akhirat #1


“King Abdul Aziz itu saya!”
Begitulah kira-kira Babah (panggilan khusus pengasuh kami dari putri beliau yang juga sering kami gunakan) membakar semangat kami untuk mengabdikan diri kepada Allah.
Terus, saya di sini harus menjelaskan kepada khalayak ramai bahwa King Abdul Aziz itu saya? Memangnya kamu siapa, Mil? çIya, aku ngerti kok. Aku bakal jelasin ke mereka.
King Abdul Aziz atau yang biasa disebut dengan KAZ merupakan pondok pesantren yang dibangun kembali setelah pernah melewati masa keterpurukan beberapa waktu yang lalu. Dulu, nama pondok pesantren ini adalah TPHQ. Mereka biasa menjabarkannya dengan Taman Pendidikan Hufadzul Qur’an alias pondok pesantren untuk menghafal Al-Qur’an. Saya tidak tahu banyak tentang hal tersebut, karena saya bukan santri periode yang itu. Ya, hanya dengar ceritanya saja. Yang pasti TPHQ dulu sangat berjaya. Namanya saja Pondok Pesantren Modern Terpadu. Tuh! Udah modern, terpadu pula.
TPHQ didirikan oleh Aziz bersaudara. Sang kakak lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo dan sang adik lulusan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Tahu kan 2 pondok pesantren terkenal itu? Yang 1 pentolan pesantren modern, sedangkan yang 1 lagi merupakan pentolan pesantren salafi (hanya mempelajari ilmu agama saja). Nah, kemudian beliau-beliau dengan dibantu teman-teman yang juga tidak kalah hebatnya, memadukan antara keduanya yaitu modern dicampur dengan salafi. Hm..seperti apa ya rasanya. Ya kayak gini :D.
Para santri dibekali dengan ilmu agama dan juga bahasa. Bahasa resmi pondok adalah English dan Arabic. Kegiatan ekstrakurikulernya dulu yang terkenal adalah pidato 3 bahasa. Seringkali mereka (yang sekarang sudah alumni ya...pastinya sudah berkeluarga) menyabet juara 1, 2, 3. Pokoknya mendengar ceritanya, kamu bakal terkesan deh. Ketika santri tak berbicara bahasa resmi, mereka akan dihukum dan lain sebagainya (namun tetap mendidik kok, hukumannya tak semena-mena. Paling berdiri dengan 1 kaki dan tangan di kuping, itupun agar mereka jera).
Sudah ya, jujur saya takut salah nanti kalau bicara banyak tentangnya di masa lalu. Saya dulu belum kenal dengannya. Sama sekali. Seharusnya bukan saya yang bercerita, tapi asal tahu aja, setiap kali saya ingin tahu banyak tentang dia lalu saya ketik namanya di internet, tidak akan muncul pesantren yang saya maksud ini. That’s why, saya ingin mengasah kegemaran menulis saya sekaligus berbagi dengan yang lain, plus agar yang lain tak kecele seperti saya jika mencari di internet tentang KAZ.
Lanjut sedikit lagi ya...
Entah, setelah masa kejayaan itu TPHQ jatuh terpuruk. Zaman semakin modern, dan pondok pesantren semakin dianggap ketinggalan. Masyarakat sudah tak banyak yang melirik. Sebagian besar dari mereka berpikir bahwa jadi apa nanti anaknya kalau dipondokin? Jadi teroris, atau pengangguran, atau apalah itu macam-macam anggapan negatif. Hello, Kalian yang beranggapan seperti itu! Tante-tante dan juga paman-paman alumni (kan mereka sudah pada berumahtangga :D) tak sedikit yang menjadi orang sukses tau! Ada yang pernah kuliah di Timur Tengah (sepertinya Mesir), ada yang jadi dokter, pengusaha, guru, haahh..banyak sekali sampai saya nggak ngerti (kenal aja enggak :D). Tapi, kayaknya tidak ada yang jadi penulis deh, hmm. :/ Ya ntar kamu, Mil! Oh..gitu ya? Baiklah...:).
Nah, akhirnya makin sedikit tuh penghuni pondok pesantrennya. Banyak yang lulus dan sedikit yang masuk. Tahu tidak, jumlah mereka berapa? Satu kelas ada yang hanya 1, loh! Yah..pasti kesepian. Hebatnya, santri itu tak putus di tengah jalan meskipun dia sendirian. Dan gurunya pun juga tidak keberatan jika hanya mengajar satu orang. Seandainya saya ada di posisi dia, mungkin saya memutuskan untuk turun kelas atau bahkan keluar :D. Salut sama kamu ya, Mbak!
Mana tega sih, melihat pondok pesantren terpuruk kayak gitu. Mana betah sih, media pengembangan agama islam tidak digubris masyarakat. Mana mau sih? Hayo? So, demi mengabdikan diri kepada Allah, demi meneruskan perjuangan agama islam, demi menjaga agar pemuda-pemudi muslim terhindar dari pengaruh negatif globalisasi, demi..dan demi...
Finally....(aduh saya agak terharu nih..hiks.hiks..)*ditimpuk :D
6 tahun yang lalu pengurus bertekad mendirikan sekolah formal dalam lembaga pesantren. Maksud dari didirikannya sekolah tersebut semata-mata hanyalah untuk Allah. Yup! Mencari cara agar masyarakat tertarik lagi dengan pendidikan pondok pesantren. Ya, mungkin tujuan awal mereka agak berbelok sedikit yaitu yang dituju bukan pondok pesantrennya melainkan sekolah formalnya. Pelan-pelan. Rasulullah dan para walisongo pun berdakwah pelan-pelan, sembunyi-sembunyi, memasukkan islam sedikit-sedikit. Begitupun dengan pak kiai beserta rekan-rekan. Nanti lama-lama para orang tua akan sadar dengan sendirinya bahwa seperti inilah zaman sekarang. Keras. Bebas. Buas. Dan pesantren merupakan tempat muara yang aman pada akhirnya (untuk yang sadar).
Berdirilah kembali TPHQ dengan wajah barunya, King Abdul Aziz.  Sebuah madrasah jenjang Tsanawiyah di daerah Banyuwangi bagian selatan tepatnya di dusun Sumberbening RT/RW 03/03 Kesilir, kecamatan Siliragung. Bangunan yang sederhana telah dibangun, bermula dengan batu bata yang jumlahnya hanya  1000 biji. Hah! 1000? Memang, tak ada uang untuk mendirikan madrasah ini. Tapi dengan tekad yang bulat, hati yang mantap, dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah menjadikan bangunan ini selesai didirikan dan akhirnya jadilah KAZ. Banyak orang yang berjasa atas berdirinya madrasah ini. Mencari bantuan kesana kemari, mencari murid kesana kemari dan akhirnya 14 siswa telah menjadi siswa angkatan pertama madrasah ini pada tahun ajaran 2010/2011, termasuk saya. Panjang ceritanya sehingga saya bisa bersama KAZ.
Setelah 3 tahun berjalan, dan masih dalam keadaan tak punya dana, pengurus dengan modal nekatnya lagi mendirikan sekolah formal jenjang berikutnya. MA? Bukan. SMA? Bukan juga. SMK? Iya. Kok? çMana saya tahu. Saya belum nanya kenapa.
Yang pasti 6 tahun yang saya lewati bersama teman-teman itu sangatlah menantang. Wow! Ya, berat tahu! Sebenarnya saya telat banget nulisnya baru sekarang, seharusnya sejak awal berdiri saya sudah blogging. Tapi, mau bagaimana lagi. Tuhan menakdirkannya sekarang, kok. Banyak sekali cerita-cerita seru, konyol, menyedihkan, menyenangkan, menyebalkan, dan sebagainya. Dan itu semua sudah saya proses untuk menjadi sebuah novel yang akan saya terbitkan di penerbit indie saja. Saya berencana untuk memberikan itu sebagai karya saya. Karena saya sendiri yang akan menulisnya, dan saya ingin nama saya tertera di cover, jadi ceritanya tentang kehidupan saya bersama KAZ saja. Kalau yang lain mau, silahkan bisa menulis sendiri, nama terpampang di cover sendiri, dan pasti menerbitkan sendiri.
Saya akan menceritakan semuanya. InsyaAllah. Semoga Allah mengijinkan dan meridhoi.
Oh ya, TPHQ tetap ada, hanya saja jika dulu TPHQ yang menjadi payung, sekarang King Abdul Aziz lah yang menjadi payungnya. Tidak pas jika Taman Pendidikan Hufadzul Qur'an memayungi MTs dan SMK. Begitulah alasan tentang bergantinya payung pondok pesantren kami. Dan saya rasa dengan payung baru, kami akan merasa lebih segar. Mari membuka lembaran baru bersama King Abdul Aziz!
Kembali ke pembahasan awal.
Pernah mendengar hadits seperti ini ? :
“Barang siapa ingin bahagia di dunia, maka harus dengan ilmu. Barang siapa ingin bahagia di akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa ingin bahagia di keduanya, maka harus dengan ilmu.”
Tidak sedikit loh orang yang menampik ini. Bukan menampik haditsnya, melainkan menampik kenyataan bahwa kedua-duanya memang sama pentingnya.
Ada nih, yang hanya belajar ilmu dunia saja. Sampai S75, ke Eropa, jadi pejabat tinggi, jadi orang penting, tapi ujung-ujungnya korupsi. Karena apa? Karena dia tidak belajar ilmu agama. Dia tidak mengerti bahayanya mencuri dan memakan uang rakyat. Mungkin itu terlalu ketinggian contohnya ya. Katakan saja, ada pengusaha yang ngakunya islam yang kekayaannya bejibun alias banyak banget, tapi dia tidak sholat, tidak puasa, terus apa yang mau ditunjukkan kepada Allah? Yang memberi semuanya itu Allah. Kamu malah tidak berterimakasih.
Ada juga yang hanya belajar ilmu akhirat. Akhirnya dia terlalu fanatik. Tidak mau menerima kenyataan bahwa zaman sekarang itu zaman yang memang ya seperti ini. Facebook dikatanya ganggu. Internet dikatanya nggak penting. Yang ada di dunia dikatanya buruk, tidak bermanfaat, bahasa inggris tidak penting, orang barat selalu tidak baik (dikiranya tidak ada orang barat yang muslim apa?) Ilmu dunia dikatanya sampah. Sekolah formal (katakan saja kuliah) tinggi-tinggi katanya buang-buang duit, lebih baik uangnya dipakai modal kerja agar bla bla bla (itu lebih kedonyan (keduniaan) keleees), haahhh dan sebagainya. Nggak usah sekolah, yang penting mondok. Akhirnya, dia jadi kudet dan tidak tahu apa-apa.
Dan yang belajar keduanya, selamat ya! Anda beruntung! Ilmu dunia tahu, ilmu agama juga tahu. Dengan begitu, tak ada deh salah-salahin orang lain. Pengalaman lebih banyak, hidup lebih terarah. Hm..senangnya diberi kepercayaan oleh Allah untuk mempelajari keduanya.
Pernah bawa air pakai timba satu saja? Nggak enak kan berat sebelah? Lebih enak bawa dua, kanan dan kiri. Meskipun lebih berat, tapi kan seimbang. Sama halnya dengan yang diajarkan di KAZ. Memang berat, tapi kan seimbang. Itu demi kebaikan dunia dan akhirat kita nanti. Memikirkan masa depan dunia dan juga masa depan akhirat. Coba deh, diangan-angan... J.
KOMBINASI KEREN dari DARUSSALAM-GONTOR dan LIRBOYO-KEDIRI menjadi KING ABDUL AZIZ-BANYUWANGI.

Komentar