King Abdul Aziz, Banyuwangi - Hari itu saya sedang bermain-main di depo AKAZ. Tak banyak yang saya lakukan. Hanya
menerjemah teks untuk bel KAZ, kemudian
pergi ke tempat recording. Selesai. Saya kembali ke area pondok
pesantren dengan sepeda kesayangan. Berputar-putar ria mengelilingi halaman
yang belum terlalu indah itu, dan kemudian saya berhenti saat segerombol santri
sedang sibuk dengan beberapa tanaman mereka.
Saya turun dari sepeda, lekas mengeluarkan kamera dari saku saya,
untuk apa lagi jika bukan mengabadikan moment indah mereka. Bukan moment
indah mereka bersama tanaman-tanaman yang hijau. Bukan. Melainkan moment
kesetaraan. Yup! Kesetaraan antara senior dan junior.
| 3 sebelah kiri adalah murid SMK, 3 sebelah kiri adalah murid MTs |
| asiknya menanam bersama |
| anak MTs bosan, dia bermain |
Sebenarnya istilah itu terlalu membedakan. Senior lebih
menggambarkan sosok para kakak kelas yang lebih tahu apapun, lebih pintar,
lebih berkuasa, dan
biasanya disandingkan dengan sifat sewenang-wenangnya berikut dengan karakter antagonis yang suka menginjak-injak dan merampas hak asasi adik kelasnya, serta golongan yang dianggap selalu benar.
biasanya disandingkan dengan sifat sewenang-wenangnya berikut dengan karakter antagonis yang suka menginjak-injak dan merampas hak asasi adik kelasnya, serta golongan yang dianggap selalu benar.
Kebalikannya, junior seringkali dianggap sebagai anak-anak ingusan
yang tidak tahu apa-apa, cengeng, lemah, tak bisa berkutik saat berhadapan
dengan kakak kelas, objek pelampiasan kakak kelas yang sedang PMS-biasanya
seperti itu-dan keegoisannya, tidak memiliki kekuasaan sama sekali, selalu dibully,
dan tentunya selalu salah di mata kakak kelas.
Saya pernah merasakan betapa tidak enaknya menjadi adik kelas
ketika saya di sekolah dasar dulu, dan saya yakin teman-teman saya juga
merasakan hal yang sama. Bagaimana saat MTs dan SMK? Maaf saja nih, saya dan
teman-teman adalah angkatan pertama di sini. Jadi, entah bagaimana rasanya
memiliki kakak kelas. Tidak memiliki kakak kelas bukan berarti tidak ada mbak-mbak
dan kang-kang yang lebih tua. Ada, beberapa. Tapi, seperti yang saya
katakan bahwa kami dilarang membudidayakan seniorisasi di sini. Awas loh,
kalo senior dan junior disetarakan nanti junior songong tau!?
Baiklah. Katakan saja bahwa kami berbeda. Namun, jangan terlalu
dianggap berbeda. Pada dasarnya, kami semua sama. Hanya saja, tingkatan kami
yang membedakan. Jika saya duduk di kelas 6, itu artinya saya memiliki 5 adik
angkatan. Jika saya duduk di kelas 2, itu artinya saya memiliki 1 adik
angkatan. Dan begitu seterusnya. Saya tidak boleh bertindak sesuka hati kepada
adik angkatan. Saya juga tidak akan mengijinkan kakak angkatan untuk bertindak
sesuka hati kepada saya. Semua dilakukan berdasarkan cara dan peraturan yang
benar, tak pandang bulu.
Semua lembaga di dunia ini perlu untuk menghapuskan seniorisasi dan
juga sifat bossy (sok raja). Karena jika 2 hal tersebut tetap berlaku,
lambat laun hal itu akan membudidaya. Dan hal yang sudah menjadi budaya, akan
sulit sekali untuk diotak-atik. Setuju? Let’s share!
See you... ^_^
nice...
BalasHapusWow, thanks :)
BalasHapus