Pelajar SMA/MA/SMK/MAK di
seluruh nusantara sudah melewati Ujian Nasionalnya, pun pengumuman kelulusan.
Beberapa sekolah mengijinkan anak didiknya untuk coret-coret di seragam mereka,
dan sebagian melarang keras untuk melakukan hal semacam itu. SMK King Abdul
Aziz masuk dalam golongan kedua, melarang keras. Memang, mereka terlihat sangat
menikmati pesta coret-coret seragam serta konvoi motor, mereka bahagia karena
mereka sudah lulus. Kebiasaan mencoret-coret seragam menandakan bahwa masa
belajar sudah usai. Nah, apakah hanya sampai jenjang SMA saja? Tidak. Mereka
lanjut ke perguruan tinggi. Lantas, kenapa kebiasaan itu dilakukan? Hanya
ikut-ikutan yang benar-benar menghentikan pendidikan mereka. Begitu? Mungkin.
Entahlah. Yang pasti SMK kami tak menginginkan anak didiknya berhenti sampai di
sini. Seragam, kami simpan rapi di lemari. Pernah mengenakannya merupakan kebanggaan
dan kenangan tersendiri dalam hidup. Oh putih abu-abuku. Selamat tinggal.
Pelajar SMP/MTs di Indonesia sedang
menyelesaikan Ujian Nasional mereka yang tinggal satu hari ini. Ya, hari ini
hari terakhir UN tingkat SLTP dan beberapa waktu ke depan, mereka akan menerima
berita kelulusan. Hari-hari sebelumnya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya,
mereka sudah mengincar beberapa sekolah setingkat SMA untuk dijadikan pilhan melanjutkan
pendidikan mereka. Ada sebagian yang harus ikut apa kata orang tua, sebagian
ada yang dibebaskan memilih sesuka hati. Tak masalah, yang penting pilihan dari
kedua pihak, sama-sama menuntun untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lantas,
lembaga pendidikan jenis apa yang bisa menjadi pilihan terbaik? Lembaga
pendidikan untuk dunia akhirat. Adakah? Tentu ada. Baca juga Sekolah Dunia Akhirat #1 dan Sekolah Dunia Akhirat #3
Pelajar SD/MI masih
disibukkan dengan bimbel (bimbingan belajar), bimbel, dan bimbel. Sebentar
lagi, hari itu akan datang. Hari disaat mereka berkutat dengan kertas-kertas
ujian dari pemerintah. Yeah. Tak lama setelahnya, mereka juga akan
menerima berita kelulusan seperti halnya SMA dan SMP, dan mereka akan lekas
menanggalkan seragam putih merah/putih hijau/putih putih (ada beberapa) mereka
dan menggantinya dengan putih biru. Mereka akan menjadi remaja tanggung. Tak
banyak berbeda dengan lulusan SMP, lulusan SD juga pasti sudah menyiapkan daftar
beberapa sekolah untuk tempat menuntut ilmu selanjutnya. Sama halnya dengan
yang di atas, pilihan orang tua atau pilihan sendiri.
Menjadi lembaga pendidikan yang
terletak di desa, membuat kami tak banyak dilirik oleh mayoritas masyarakat
desa sekitar. Mereka berpikir bahwa kami ndeso dan tak layak untuk
dijadikan tempat anak-anak mereka menuntut ilmu. Mereka ingin menjadi
kekota-kotaan dengan memilih lembaga pendidikan negeri (milik pemerintah).
Padahal menurut fakta, orang kota lebih menyukai lembaga pendidikan swasta. Di
luar negeri pun, juga lebih banyak yang memilih swasta. Tak jarang pula yang
memilih sekolah asrama. Saya tidak men-judge, tapi ini kenyataan.
Menuntut ilmu di manapun tempatnya
itu sama saja. Yang membedakan adalah pribadinya masing-masing. Tidak bisa
dikatakan bahwa 100% murid di sekolah negeri yang fasilitasnya sangat memadai
(segala macam laboratorium ada, kelas A-Z :D haha, segala macam lapangan
tersedia) akan menjadi anak didik yang berkarakter bangsa, akan menjadi anak
yang pandai dalam segala bidang, akan menjadi pintar, dan lain sebagainya.
Tidak bisa. Begitu juga dengan lembaga pendidikan milik kami.
Tidak ada sekolah dengan sistem
menghancurkan. Jikalau ada anak didik yang menyeleweng, bukan berarti
sekolahnya yang mengajarkan. Semua tergantung pribadi masing-masing. Sama
halnya dengan agama. Di Indonesia ada beberapa agama yang diakui dan
masing-masing memiliki penganut. Agama Islam mewajibkan seluruh umatnya untuk
mendirikan sholat, tapi ada yang tidak sholat juga, kan? Agama Hindu melarang
umatnya untuk menyembelih sapi, tapi apakah tidak ada satupun yang melanggar?
-Setiap agama memiliki aturan. Dan setiap aturan memiliki
pelanggar-
Sama halnya dengan
-Setiap lembaga pendidikan memiliki aturan. Dan setiap aturan
memiliki pelanggar-
Niat kami tulus ingin mengajak
kalian menuju jalan kebaikan. Tapi, kami tidak janji untuk membuat kalian
menjadi baik. Karena, semua tergantung pada diri kalian masing-masing. Mau atau
tidak. Kami mati-matian serta mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan tapi
kalian tidur, mana bisa? Iya, kan?
Dunia ini sudah cukup tua. Lihatlah
di luar sana, sebagian besar generasi muda yang harusnya belajar dengan baik,
mereka malah sibuk berpacaran dan hura-hura dengan miras serta obat-obatan
terlarang. Apakah kalian juga mau menjadi seperti mereka? Tidak, kan?
Baiklah. Di luar sana juga tak
sedikit yang menjadi anak baik. Patuh dengan orang tua, guru, penuh kasih
sayang kepada sesama, selalu menjadi juara kelas, intinya dia merupakan anak
baik-baik. Namun, jika hanya mempelajari ilmu dunia saja (tidak menyeimbangi
dengan pengetahuan agama), bagaimana kita menjadi lebih dekat dengan Allah?
Apakah kalian mau menjadi biasa-biasa saja?
Come on! Mari kita ubah dunia
menjadi lebih baik bersama-sama, Guys! Bayangkan saja, jika negara kita
dipimpin oleh pribadi-pribadi yang mengerti dosa, pastilah negara kita akan
makmur. Mau korupsi, ah ini kan perbuatan dosa, bisa-bisa masuk neraka nih.
Mau sewenang-wenang dengan bawahan, ah mereka kan juga manusia sama seperti
saya, kenapa saya perlakukan seperti itu?
Ingat masa kepemimpinan Gus Dur,
tidak? Saya waktu itu masih kecil, sehingga saya tidak mengerti. Tapi, saya
dengar setelah saya besar bahwa kepemimpinan beliau bagus. Kenapa? Beliau tahu
apa itu dosa karena selain beliau belajar ilmu dunia, beliau juga mendalami
ilmu agama. Beliau anaknya Pak Kyai besar. Panggilannya saja “Gus”. Lihat,
waktu beliau meninggal...bagaimana keadaan seluruh nusantara ini? Sampai
sekarang makamnya tak sepi peziarah. Kalau tidak percaya, kalian bisa berziarah
ke sana. Saya sudah membuktikannya secara nyata bahwa makamnya ramai peziarah
karena waktu itu saya lumayan sulit mencari tempat duduk. #plak.
Tahu Bupati Banyuwangi (daerah saya
nih...hehe)? Bapak Abdullah Azwar Annas. Yup! Beliau juga merupakan
alumni pondok pesantren. Apa yang terjadi dengan Banyuwangi sekarang? Saya
sangat bahagia memiliki Banyuwangi saya yang sekarang. Sungguh! Bisa dilihat
kondisinya yang sekarang. Buktikan!
Tidak inginkah kalian bisa melakukan
seperti yang dilakukan beliau-beliau? Kombinasi dari ilmu dunia dan ilmu
akhirat bersemayam dalam hati mereka. Begitu juga dengan kalian. Buatlah kombinasi
serupa menancap dalam hati kalian masing-masing! Mari berubah menjadi lebih
baik lagi bersama King Abdul Aziz Modern Islamic Boarding School !
Baca
juga : Sekolah Dunia Akhirat #1 dan untuk
Informasi Penerimaan Santri Baru & Peserta Didik Baru, silahkan klik di sini.
Komentar
Posting Komentar