Sekolah Dunia Akhirat #2



Pelajar SMA/MA/SMK/MAK di seluruh nusantara sudah melewati Ujian Nasionalnya, pun pengumuman kelulusan. Beberapa sekolah mengijinkan anak didiknya untuk coret-coret di seragam mereka, dan sebagian melarang keras untuk melakukan hal semacam itu. SMK King Abdul Aziz masuk dalam golongan kedua, melarang keras. Memang, mereka terlihat sangat menikmati pesta coret-coret seragam serta konvoi motor, mereka bahagia karena mereka sudah lulus. Kebiasaan mencoret-coret seragam menandakan bahwa masa belajar sudah usai. Nah, apakah hanya sampai jenjang SMA saja? Tidak. Mereka lanjut ke perguruan tinggi. Lantas, kenapa kebiasaan itu dilakukan? Hanya ikut-ikutan yang benar-benar menghentikan pendidikan mereka. Begitu? Mungkin. Entahlah. Yang pasti SMK kami tak menginginkan anak didiknya berhenti sampai di sini. Seragam, kami simpan rapi di lemari. Pernah mengenakannya merupakan kebanggaan dan kenangan tersendiri dalam hidup. Oh putih abu-abuku. Selamat tinggal.
             Pelajar SMP/MTs di Indonesia sedang menyelesaikan Ujian Nasional mereka yang tinggal satu hari ini. Ya, hari ini hari terakhir UN tingkat SLTP dan beberapa waktu ke depan, mereka akan menerima berita kelulusan. Hari-hari sebelumnya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, mereka sudah mengincar beberapa sekolah setingkat SMA untuk dijadikan pilhan melanjutkan pendidikan mereka. Ada sebagian yang harus ikut apa kata orang tua, sebagian ada yang dibebaskan memilih sesuka hati. Tak masalah, yang penting pilihan dari kedua pihak, sama-sama menuntun untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lantas, lembaga pendidikan jenis apa yang bisa menjadi pilihan terbaik? Lembaga pendidikan untuk dunia akhirat. Adakah? Tentu ada. Baca juga Sekolah Dunia Akhirat #1 dan Sekolah Dunia Akhirat #3
            Pelajar SD/MI masih disibukkan dengan bimbel (bimbingan belajar), bimbel, dan bimbel. Sebentar lagi, hari itu akan datang. Hari disaat mereka berkutat dengan kertas-kertas ujian dari pemerintah. Yeah. Tak lama setelahnya, mereka juga akan menerima berita kelulusan seperti halnya SMA dan SMP, dan mereka akan lekas menanggalkan seragam putih merah/putih hijau/putih putih (ada beberapa) mereka dan menggantinya dengan putih biru. Mereka akan menjadi remaja tanggung. Tak banyak berbeda dengan lulusan SMP, lulusan SD juga pasti sudah menyiapkan daftar beberapa sekolah untuk tempat menuntut ilmu selanjutnya. Sama halnya dengan yang di atas, pilihan orang tua atau pilihan sendiri.
            Menjadi lembaga pendidikan yang terletak di desa, membuat kami tak banyak dilirik oleh mayoritas masyarakat desa sekitar. Mereka berpikir bahwa kami ndeso dan tak layak untuk dijadikan tempat anak-anak mereka menuntut ilmu. Mereka ingin menjadi kekota-kotaan dengan memilih lembaga pendidikan negeri (milik pemerintah). Padahal menurut fakta, orang kota lebih menyukai lembaga pendidikan swasta. Di luar negeri pun, juga lebih banyak yang memilih swasta. Tak jarang pula yang memilih sekolah asrama. Saya tidak men-judge, tapi ini kenyataan.
            Menuntut ilmu di manapun tempatnya itu sama saja. Yang membedakan adalah pribadinya masing-masing. Tidak bisa dikatakan bahwa 100% murid di sekolah negeri yang fasilitasnya sangat memadai (segala macam laboratorium ada, kelas A-Z :D haha, segala macam lapangan tersedia) akan menjadi anak didik yang berkarakter bangsa, akan menjadi anak yang pandai dalam segala bidang, akan menjadi pintar, dan lain sebagainya. Tidak bisa. Begitu juga dengan lembaga pendidikan milik kami.
            Tidak ada sekolah dengan sistem menghancurkan. Jikalau ada anak didik yang menyeleweng, bukan berarti sekolahnya yang mengajarkan. Semua tergantung pribadi masing-masing. Sama halnya dengan agama. Di Indonesia ada beberapa agama yang diakui dan masing-masing memiliki penganut. Agama Islam mewajibkan seluruh umatnya untuk mendirikan sholat, tapi ada yang tidak sholat juga, kan? Agama Hindu melarang umatnya untuk menyembelih sapi, tapi apakah tidak ada satupun yang melanggar?
-Setiap agama memiliki aturan. Dan setiap aturan memiliki pelanggar-
Sama halnya dengan
-Setiap lembaga pendidikan memiliki aturan. Dan setiap aturan memiliki pelanggar-

            Niat kami tulus ingin mengajak kalian menuju jalan kebaikan. Tapi, kami tidak janji untuk membuat kalian menjadi baik. Karena, semua tergantung pada diri kalian masing-masing. Mau atau tidak. Kami mati-matian serta mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan tapi kalian tidur, mana bisa? Iya, kan?
            Dunia ini sudah cukup tua. Lihatlah di luar sana, sebagian besar generasi muda yang harusnya belajar dengan baik, mereka malah sibuk berpacaran dan hura-hura dengan miras serta obat-obatan terlarang. Apakah kalian juga mau menjadi seperti mereka? Tidak, kan?
            Baiklah. Di luar sana juga tak sedikit yang menjadi anak baik. Patuh dengan orang tua, guru, penuh kasih sayang kepada sesama, selalu menjadi juara kelas, intinya dia merupakan anak baik-baik. Namun, jika hanya mempelajari ilmu dunia saja (tidak menyeimbangi dengan pengetahuan agama), bagaimana kita menjadi lebih dekat dengan Allah? Apakah kalian mau menjadi biasa-biasa saja?
            Come on! Mari kita ubah dunia menjadi lebih baik bersama-sama, Guys! Bayangkan saja, jika negara kita dipimpin oleh pribadi-pribadi yang mengerti dosa, pastilah negara kita akan makmur. Mau korupsi, ah ini kan perbuatan dosa, bisa-bisa masuk neraka nih. Mau sewenang-wenang dengan bawahan, ah mereka kan juga manusia sama seperti saya, kenapa saya perlakukan seperti itu?
            Ingat masa kepemimpinan Gus Dur, tidak? Saya waktu itu masih kecil, sehingga saya tidak mengerti. Tapi, saya dengar setelah saya besar bahwa kepemimpinan beliau bagus. Kenapa? Beliau tahu apa itu dosa karena selain beliau belajar ilmu dunia, beliau juga mendalami ilmu agama. Beliau anaknya Pak Kyai besar. Panggilannya saja “Gus”. Lihat, waktu beliau meninggal...bagaimana keadaan seluruh nusantara ini? Sampai sekarang makamnya tak sepi peziarah. Kalau tidak percaya, kalian bisa berziarah ke sana. Saya sudah membuktikannya secara nyata bahwa makamnya ramai peziarah karena waktu itu saya lumayan sulit mencari tempat duduk. #plak.
            Tahu Bupati Banyuwangi (daerah saya nih...hehe)? Bapak Abdullah Azwar Annas. Yup! Beliau juga merupakan alumni pondok pesantren. Apa yang terjadi dengan Banyuwangi sekarang? Saya sangat bahagia memiliki Banyuwangi saya yang sekarang. Sungguh! Bisa dilihat kondisinya yang sekarang. Buktikan!
            Tidak inginkah kalian bisa melakukan seperti yang dilakukan beliau-beliau? Kombinasi dari ilmu dunia dan ilmu akhirat bersemayam dalam hati mereka. Begitu juga dengan kalian. Buatlah kombinasi serupa menancap dalam hati kalian masing-masing! Mari berubah menjadi lebih baik lagi bersama King Abdul Aziz Modern Islamic Boarding School !
Baca juga : Sekolah Dunia Akhirat #1 dan untuk Informasi Penerimaan Santri Baru & Peserta Didik Baru, silahkan klik di sini.

Komentar