Hari Santri Nasional 2016


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah, amin ya robbal alamin. Sebelumnya, kami Santri dari Pondok Pesantren Modern Terpadu King Abdul Aziz – Siliragung – Banyuwangi baik putra maupun putri mengucapkan SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, kemarin.
Yah, jika dulu keberadaan santri seolah kurang dianggap bahkan nyaris tak tergubris oleh kebanyakan penduduk di Indonesia, kini penuntut ilmu di pesantren yang lebih akrab di telinga kita dengan sebutan SANTRI itu memiliki satu hari yang mungkin tidak akan pernah dimiliki oleh mereka yang tidak pernah belajar di pesantren sebab tak ada predikat santri di genggaman. Benar adanya mereka memiliki HARI PENDIDIKAN NASIONAL, namun itu juga berlaku bagi santri, bukan? Karena santri juga mengenyam pendidikan.
Katakan saja bahwa 80% penduduk Indonesia adalah muslim, namun entah hanya berapa persennya yang pernah merasakan ladzadnya menuntut ilmu di pesantren dan layak dikatakan sebagai santri. Ah, SIC (Sugar in Coffe)! Keberadaannya penting namun seringkali tak terlihat dan terlupakan. *SIC ini yang pernah disampaikan oleh Babah, waktu itu dalam forum tidak resmi alias terselip dalam pembicaraan.
Pernahkah kalian minum kopi? Pasti kalian menambahkan gula ke dalamnya, iya kan? *dikecualikan bagi penikmat kopi pahit tanpa gula. Sebenarnya, itu kan campuran dari gula + kopi (kopi normal/biasa, dalam artian bukan Coffe Latte, kopi susu, kopi dengan tambahan cream, dan sebagainya), namun setelah 2 bahan tersebut diguyur oleh air, bagaimana kalian menyebutnya? Hanya KOPI dan bukan KOPI GULA atau GULA KOPI, kan? Si Gula tak disebut, tak dianggap, dan itu tidak apa-apa untuknya. Kalian lupa dan tidak sadar bahwa yang membuatnya manis serta nikmat karena ada gula.
Begitu juga dengan santri. Banyak orang yang berpengaruh di negara ini yang besar di pesantren. Namun, sepertinya tak lebih dari 30% yang tahu dari mana mereka berasal. Pada zaman penjajahan, banyak juga kyai (yang dulunya belajar di pesantren / mondok) yang membantu mengusir penjajah, yang tiada henti-hentinya mendoakan Indonesia, namun hanya sedikit sekali yang mengingat jasanya. Yang seringkali disebut-sebut hanyalah pahlawan-pahlawan itu (yang sudah kalian pelajari di Sekolah Dasar). Mereka (kyai) tidak apa-apa karena mereka adalah SIC. Semoga amal ibadah mereka diterima oleh Allah, amin. *Al-Fatihah...
Berikut kutipan hasil browsing di internet, yang mungkin bisa membuat artikel ini semakin sedap.
Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghoffar Rozien menyerukan agar Presiden Joko Widodo menepati janjinya dalam kampanye. Jika presiden pernah mengusulkan 1 Muharram, RMI berpendapat 22 Oktober lebih tepat karena alasan historis (tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan penandatanganan Resolusi Jihad -22 Oktober 1945- yang digagas oleh pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari dan puluhan Kyai se Jawa-Madura).
“Ribuan pesantren dan jutaan santri sudah menunggu keputusan presiden terkait dengan Hari Santri Nasional. Kebijakan itu, menguatkan marwah negara, “ ungkap Rozien.
Ia mengatakan, langkah Presiden Jokowi sudah tepat untuk memberikan penghormatan kepada santri, karena jasa-jasa pesantren di masa lalu yang luar biasa.
Jokowi mengatakan, mengingat peran historis para santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti KH. Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta mengingat pula 17 nama-nama perwira Pembela Tanah Air (PETA) yang berasal dari kalangan santri, pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan, “ kata Jokowi di hadapan para santri, ulama, dan tokoh-tokoh agama yang hadir di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (22/10/2015). 
Cukup.
Banyuwangi ditakdirkan dipimpin oleh seorang santri juga. Lewat perantara kepemimpinan Bapak H. Abdullah Azwar Annas, alhamdulillah kota yang terletak di ujung selatan Indonesia ini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Membicarakan tentang Hari Santri Nasional, sepertinya Banyuwangi benar-benar mendapat rasa greget itu. Bapak Bupati pasti pernah merasakan bagaimana menjadi kami.
Bertempat di Taman Sri Tanjung (Blambangan) Banyuwangi memperingati Hari Santri Nasional bersama seluruh pesantren se-Kabupaten Banyuwangi. Berhubung kami dari desa, letak pesantren kami cukup jauh dari kota, akhirnya kami datang beberapa waktu setelah acara selesai. Tak mengapa. Kami memiliki cara sendiri untuk merayakannya. Sekali lagi, SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL, KAWAN!

Berikut ini merupakan cara kami memperingatinya:
Al-Qur'an besar di masjid jami'

jalan di depan masjid besar itu

serasa di ibukota, padahal lokal

senangnya hati refreshing di Taman Sritanjung 

Background itu panggung acara

hanya sedikit foto santri putra yang tertangkap kamera

kota itu tak pernah sepi, ia selalu sibuk

lumayan nemu tempat duduk

pantai boom juga kami sambangi

menyebar tapi tetep ya, jangan dekat2 lawan jenis


Komentar