Yah, jika dulu keberadaan santri
seolah kurang dianggap bahkan nyaris tak tergubris oleh kebanyakan penduduk di
Indonesia, kini penuntut ilmu di pesantren yang lebih akrab di telinga kita
dengan sebutan SANTRI itu memiliki satu hari yang mungkin tidak akan pernah
dimiliki oleh mereka yang tidak pernah belajar di pesantren sebab tak ada predikat
santri di genggaman. Benar adanya mereka memiliki HARI PENDIDIKAN NASIONAL,
namun itu juga berlaku bagi santri, bukan? Karena santri juga mengenyam
pendidikan.
Katakan saja bahwa 80% penduduk
Indonesia adalah muslim, namun entah hanya berapa persennya yang pernah
merasakan ladzadnya menuntut ilmu di pesantren dan layak dikatakan
sebagai santri. Ah, SIC (Sugar in Coffe)! Keberadaannya penting namun
seringkali tak terlihat dan terlupakan. *SIC ini yang pernah disampaikan oleh
Babah, waktu itu dalam forum tidak resmi alias terselip dalam pembicaraan.
Pernahkah kalian minum kopi? Pasti
kalian menambahkan gula ke dalamnya, iya kan? *dikecualikan bagi penikmat kopi
pahit tanpa gula. Sebenarnya, itu kan campuran dari gula + kopi (kopi
normal/biasa, dalam artian bukan Coffe Latte, kopi susu, kopi dengan tambahan cream,
dan sebagainya), namun setelah 2 bahan tersebut diguyur oleh air, bagaimana
kalian menyebutnya? Hanya KOPI dan bukan KOPI GULA atau GULA KOPI, kan? Si Gula
tak disebut, tak dianggap, dan itu tidak apa-apa untuknya. Kalian lupa dan
tidak sadar bahwa yang membuatnya manis serta nikmat karena ada gula.
Begitu juga dengan santri. Banyak
orang yang berpengaruh di negara ini yang besar di pesantren. Namun, sepertinya
tak lebih dari 30% yang tahu dari mana mereka berasal. Pada zaman penjajahan,
banyak juga kyai (yang dulunya belajar di pesantren / mondok) yang membantu
mengusir penjajah, yang tiada henti-hentinya mendoakan Indonesia, namun hanya
sedikit sekali yang mengingat jasanya. Yang seringkali disebut-sebut hanyalah
pahlawan-pahlawan itu (yang sudah kalian pelajari di Sekolah Dasar). Mereka
(kyai) tidak apa-apa karena mereka adalah SIC. Semoga amal ibadah mereka
diterima oleh Allah, amin. *Al-Fatihah...
Berikut kutipan hasil browsing
di internet, yang mungkin bisa membuat artikel ini semakin sedap.
Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid
Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghoffar Rozien menyerukan agar
Presiden Joko Widodo menepati janjinya dalam kampanye. Jika presiden pernah
mengusulkan 1 Muharram, RMI berpendapat 22 Oktober lebih tepat karena alasan
historis (tanggal itu dipilih karena bertepatan dengan penandatanganan Resolusi
Jihad -22 Oktober 1945- yang digagas oleh pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari dan
puluhan Kyai se Jawa-Madura).
“Ribuan pesantren dan jutaan
santri sudah menunggu keputusan presiden terkait dengan Hari Santri Nasional.
Kebijakan itu, menguatkan marwah negara, “ ungkap Rozien.
Ia mengatakan, langkah Presiden
Jokowi sudah tepat untuk memberikan penghormatan kepada santri, karena
jasa-jasa pesantren di masa lalu yang luar biasa.
Jokowi mengatakan, mengingat peran
historis para santri dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
seperti KH. Hasyim Asy’ari dari Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan dari
Muhammadiyah, A. Hassan dari Persis, Ahmad Soorhati dari Al-Irsyad dan Mas
Abdul Rahman dari Matlaul Anwar serta mengingat pula 17 nama-nama perwira
Pembela Tanah Air (PETA) yang berasal dari kalangan santri, pemerintah menetapkan
22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
“Sejarah mencatat, para santri telah
mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan
cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing
bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di
daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang
arti kemerdekaan, “ kata Jokowi di hadapan para santri, ulama, dan tokoh-tokoh
agama yang hadir di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (22/10/2015).
Cukup.
Banyuwangi ditakdirkan dipimpin oleh
seorang santri juga. Lewat perantara kepemimpinan Bapak H. Abdullah Azwar
Annas, alhamdulillah kota yang terletak di ujung selatan Indonesia ini menjadi
lebih baik dari sebelumnya. Membicarakan tentang Hari Santri Nasional,
sepertinya Banyuwangi benar-benar mendapat rasa greget itu. Bapak Bupati
pasti pernah merasakan bagaimana menjadi kami.
Bertempat di Taman Sri Tanjung
(Blambangan) Banyuwangi memperingati Hari Santri Nasional bersama seluruh
pesantren se-Kabupaten Banyuwangi. Berhubung kami dari desa, letak pesantren
kami cukup jauh dari kota, akhirnya kami datang beberapa waktu setelah acara
selesai. Tak mengapa. Kami memiliki cara sendiri untuk merayakannya. Sekali
lagi, SELAMAT HARI SANTRI NASIONAL, KAWAN!
| jalan di depan masjid besar itu |
| serasa di ibukota, padahal lokal |
| senangnya hati refreshing di Taman Sritanjung |
| Background itu panggung acara |
| hanya sedikit foto santri putra yang tertangkap kamera |
| kota itu tak pernah sepi, ia selalu sibuk |
| lumayan nemu tempat duduk |
| pantai boom juga kami sambangi |
| menyebar tapi tetep ya, jangan dekat2 lawan jenis |
Komentar
Posting Komentar